Pada 30 Oktober sampai 1 November 2025, penulis yang merupakan anggota Komunitas Wikimedia Banjar dan sukarelawan Wikimedia Indonesia, berkesempatan hadir dalam perhelatan Konferensi GLAM 2025 di Lisboa, Portugal, dimana penulis merupakan salah satu perwakilan kontributor proyek Wikimedia dari Indonesia.

Dalam perjalanan menuju Lisbon, penulis harus menempuh perjalanan hingga kira-kira sehari semalam, yaitu berangkat dari Bandara Syamsudin Noor ke Bandara Soekarno Hatta pada 28 Oktober 2025 sore. Setelah itu, penulis harus menempuh perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Istanbul dan dari Bandara Istanbul ke Bandara Humberto Delgado Lisbon selama satu malam. Ketika penulis tiba di bandara pada Rabu, 29 Oktober 2025 siang, penulis disambut oleh panitia yang sudah menunggu di terminal kedatangan.
Pada hari pertama, yaitu Kamis, 30 Oktober 2025, penulis menghadiri pembukaan konferensi yang berlangsung di Institut Universitas Lisboa, tidak jauh dari hotel tempat penulis menginap bersama peserta lain. Selain menghadiri pembukaan, saya juga menghadiri berbagai kegiatan di kampus tersebut, seperti diskusi panel yang bertopik “Building the Future of Cultural Heritage“, pelatihan yang bertopik “Demonstrating impact via Commons Impact Metrics, presentasi singkat yang bertopik “Maintaining and Reusing Cultural Heritage Data with Wikidata: Experience from WIkimedia Indonesia.“ dengan pematerinya adalah Hisyam (staf Wikimedia Indonesia), dan kegiatan lainnya. Selain mengikuti rangkaian acara di kampus tersebut, penulis juga berkesempatan mengikuti tour ke Museum Lisboa (Museu de Lisboa) yang berlokasi di kawasan Campo Grande.
Pada hari kedua, yaitu Jumat, 31 Oktober 2025, penulis memilih untuk menghadiri rangkaian kegiatan di Perpustakaan Nasional Lisboa (Biblioteca Nacional de Portugal), yaitu menghadiri serangkaian lokakarya berbahasa Portugis dengan topik “From Local Collection to Global Impact: First Steps in the Wiki Universe.” Pada hari ketiga, yaitu 1 November 2025, penulis menjadi sukarelawan konferensi, yaitu sebagai penjaga ruangan untuk kegiatan WikidataCon 2025 yang berlangsung secara daring. Dalam dua hari tersebut, penulis berkesempatan bertemu dengan beberapa orang penting dalam konferensi, termasuk Maryana Iskandar (CEO Wikimedia Foundation), Andre Barbosa (Ketua Wikimedia Portugal), dan lain-lain.

Apa yang Penulis Peroleh saat Konferensi?
Saat penulis menghadiri lokakarya di Perpustakaan Nasional Portugal, penulis tertarik dengan materi yang bertopik Wikidata in Practice: A Story Told with Data yang disampaikan oleh Joaquim Santos. Dalam presentasinya, dia mendemonstraikan penggunaan Wikidata dalam konteks sains dan warisan dan membahasa salah satu penelitian yang telah dia publikasi, yaitu “The Disambiguation of People Names in Biological Collections.” Dalam jurnalnya, dia dan rekan-rekan peneliti lainnya membahas tentang bagaimana proyek-proyek Wikimedia (seperti Wikidata dan Wikipedia) dapat menangani masalah ambiguisitas terhadap spesimen koleksi biologi, sehingga semua data koleksi bisa dihubungkan, divalidasi, dan nilai ilmiahnya dapat dimaksimalkan.
Kemudian, penulis juga bertemu dengan Tiago Lubiana, salah satu anggota Wikimedia Brasil. Darinya, penulis dikenalkan dengan sebuah situs Biodiversity Heritage Library, salah satu situs pustaka literatur dan arsip untuk studi biologi yang dapat diakses secara terbuka. Selain itu, penulis juga diajak olehnya untuk bergabung di forum WikiProject Biodiversity di Telegram, sebuah forum yang mendiskusikan proyek Wikimedia yang berkaitan dengan studi biologi. Dia juga menyetujui jika sewaktu-waktu Wikimedia Indonesia mengundangnya untuk diskusi lebih lanjut.

Prospek Proyek Wikimedia sebagai Metode dalam Studi Biologi di Indonesia
Dari kegiatan-kegiatan yang penulis ikuti saat konferensi, penulis semakin tergugah dengan metode yang mereka lakukan. Mereka mampu penggunaan proyek-proyek Wikimedia dalam studi biologi. Penulis juga terpikir bagaimana metode yang mereka lakukan dapat diterapkan di Indonesia. Seperti yang diketahui oleh banyak orang, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sudah dteliti oleh banyak peneliti sejak zaman dahulu kala. Dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, sampai organisasi nirlaba di Indonesia yang memlilki perhatian dalam penelitian tekait studi biologi, sehingga ada peluang untuk melakukan kajian tersebut. Bahkan, Kebun Raya Bogor dibangun pada abad ke-19 untuk mendukung peneliti dalam mengkaji keanekaragaman hayati pada zaman Hindia Belanda.
Namun, yang menjadi tantangan dalam mengkaji hal tersebut yaitu belum familiarnya proyek Wikimedia dalam studi sains, khususnya di bidang biologi di Indonesia. Belum lagi jika menghadapi masalah birokrasi di Indonesia yang membuat akses penelitian menjadi terbatas. Padahal, jika orang-orang yang ahli di bidangnya memiliki peran dalam mengembangkan proyek-proyek Wikimedia, banyak orang semakin tercerahkan dengan terbukanya pengetahuan terkait studi biologi dengan sumber yang reliabel, mengingat tujuan proyek Wikimedia adalah untuk membebaskan pengetahuan bagi banyak orang, entah itu akademisi, peneliti, bahkan orang awam sekalipun.
Can you help us translate this article?
In order for this article to reach as many people as possible we would like your help. Can you translate this article to get the message out?
Start translation