Masa Depan adalah Hari Ini: Catatan ESEAP tentang Wikimedia Futures Lab

Translate this post

Penerjemah: Nanda Febriana

Dari halaman https://diff.wikimedia.org/2026/03/17/the-future-is-the-present-eseaps-reflections-on-the-wikimedia-futures-lab/

Akhir pekan terakhir Januari 2026, saat banyak orang di Jakarta masih menikmati suasana liburan Tahun Baru yang panjang, saya justru sibuk berkemas untuk terbang ke Frankfurt. Sebagai perwakilan ESEAP Hub, saya berkesempatan bergabung dengan lebih dari 100 peserta dari berbagai gerakan Wikimedia. Selain pihak penyelenggara, ada juga perwakilan organisasi mitra lokal, kontributor sukarela, serta para ahli dari luar komunitas. Kami semua berkumpul di acara Wikimedia Futures Lab, sebuah pertemuan tatap muka yang diselenggarakan oleh Wikimedia Deutschland bekerja sama dengan Yayasan Wikimedia pada 30 Januari hingga 1 Februari 2026.

Saya sudah cukup lama mengetahui acara ini. Proses pendaftarannya dibuka hingga awal September 2025, dan konsepnya pun sudah dibahas dalam sesi khusus di Wikimania 2025 untuk menghimpun masukan dari komunitas sebelum pertemuan di Frankfurt digelar. Jadi, saat saya naik pesawat, saya sudah punya gambaran awal tentang apa yang akan saya hadapi. Namun, Frankfurt ternyata masih menyimpan banyak kejutan.

Perjalanan ke Frankfurt

Perjalanan dari Jakarta menuju Frankfurt memang tidak pernah singkat. Begitu tiba di lokasi acara, mabuk pascaterbang sudah cukup terasa. Namun, begitu melangkah masuk ke ruangan dan mulai bertemu dengan banyak orang, rasa lelah itu seakan menguap begitu saja. Ada sesuatu yang istimewa dari energi di ruangan yang dipenuhi Wikimediawan. Kebanyakan dari kami sudah saling berinteraksi secara daring selama bertahun-tahun, entah melalui ringkasan suntingan, halaman pembicaraan, atau pertemuan daring. Lalu tiba-tiba, kami duduk berhadapan langsung dengan orang yang selama ini hanya kami kenali dari akun pengguna mereka. Banyak wajah familiar dari tahun-tahun sebelumnya muncul di depan mata.

Untuk kawasan ESEAP, kami hadir dengan lima orang. Selain saya sebagai perwakilan ESEAP Hub, ada Yongjin Ko dari Wikimedia Korea, Ahmad Ali Karim dari Kelompok Pengguna Komunitas Wikimedia Malaysia (Wikimedia Community User Group Malaysia/MYS), Curtis Lui dari Kelompok Pengguna Komunitas Wikimedia Hong Kong (Wikimedia Community User Group Hong Kong/WMHKG), serta Jeromi Mikhael dari Wikipedia bahasa Indonesia. Menurut Jeromi, ini adalah pertama kalinya ia datang sendirian sebagai “pembawa bendera Indonesia” di sebuah konferensi. Saya memang juga orang Indonesia, tetapi saya hadir mewakili ESEAP Hub (baca laporan lengkap Jeromi di sini). Beban yang dipikul Jeromi cukup berat, dan hal itu sekaligus menggambarkan betapa masih kurang terwakilinya wilayah kami di forum-forum seperti ini. Itulah sebabnya kehadiran ESEAP Hub menjadi sangat penting.

Hari Pertama: Mengenal Dunia di Sekitar Kita

Foto bersama oleh Jason Ekvidi, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Hari pertama difokuskan pada satu pertanyaan besar: bagaimana dunia sedang berubah dan apa dampaknya bagi Wikimedia? Melalui serangkaian presentasi dari para ahli dan diskusi panel, kami membahas tiga hal yang saling berkaitan: cara orang mengonsumsi pengetahuan saat ini, cara orang berkontribusi pada pengetahuan, serta bagaimana infrastruktur pengetahuan secara keseluruhan sedang bergeser.

Gambaran yang muncul cukup mengkhawatirkan. Generasi muda kini lebih sering mencari informasi melalui media sosial, video pendek, dan alat berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude. Wikipedia memang masih banyak dikunjungi, tetapi cara orang mengaksesnya sudah berubah, dan sulit melacak dari mana informasi itu berasal. Ketika chatbot AI memberikan jawaban berdasarkan data dari Wikipedia, kebanyakan pengguna bahkan tidak menyadarinya.

“Saya ingin kalian ingat bahwa masa depan itu tidak pasti. Justru orang-orang yang berbicara dengan penuh keyakinan itulah yang sebaiknya kita waspadai dan sikapi dengan skeptis.” Malka Older, Direktur Eksekutif Global Voices dan penulis fiksi ilmiah.

Salah satu kalimat yang paling melekat di benak saya berasal dari sesi pembuka oleh Malka. Alih-alih memberikan prediksi atau panduan, ia mengajak semua peserta untuk menerima ketidakpastian dan bersikap waspada terhadap orang-orang yang mengaku tahu segalanya dengan pasti. Gagasan sederhana ini ternyata mengubah cara kami memandang segalanya. Jeromi juga menyoroti hal yang sama dalam laporannya: kita bukan sedang mempersiapkan diri menghadapi krisis yang akan datang. Perubahan itu sudah terjadi sekarang. Masa depan adalah hari ini.

Pembicaraan tentang kontribusi juga sangat terbuka. Cara klasik menyunting Wikipedia, menemukan artikel, klik sunting, lalu berkontribusi, sudah tidak lagi menarik bagi banyak orang, terutama generasi muda. Mereka lebih memilih berbagi pengetahuan lewat TikTok, Instagram, Reddit, dan platform daring lainnya. Antarmuka MediaWiki terasa penuh aturan, rumit, dan kadang menakutkan. Masalah ini bukan hanya dirasakan di komunitas “Wikipedia” dari belahan dunia Barat. Di kawasan ESEAP, kami juga mengalaminya, terkadang dengan intensitas yang lebih besar, terkadang dengan tantangan yang berbeda.

Hari Kedua: Pertanyaan tentang Infrastruktur Pengetahuan

Hari pertama lebih banyak membahas pengalaman pengguna, sedangkan hari kedua membahas gambaran yang lebih struktural. Wikipedia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-25 pada 15 Februari, hanya dua minggu setelah acara kami berakhir. Hal itu memberikan latar belakang yang menarik di sepanjang kegiatan. Sudah hampir seperempat abad Wikimedia menyediakan pengetahuan secara gratis. Namun, di balik itu muncul kekhawatiran yang semakin besar tentang pemanfaatan pengetahuan yang bersifat ekstraktif: perusahaan-perusahaan AI melatih model mereka menggunakan konten Wikimedia tanpa atribusi yang jelas atau kontribusi balik yang berarti. Di sisi lain, regulasi yang dibuat untuk mengendalikan perusahaan teknologi besar justru menimbulkan hambatan bagi organisasi nirlaba. Ditambah lagi dengan kecenderungan global menuju lingkungan informasi yang lebih tertutup dan bersifat komersial.

Dalam catatannya, Yongjin Ko menyoroti pertanyaan besar bagi seluruh gerakan Wikimedia: seperti apa wujud proyek-proyek Wikimedia dalam 25 tahun ke depan? (Baca laporan lengkap Yongjin di sini). Pertanyaan ini memiliki makna yang berbeda-beda tergantung dari mana kita berasal. Bagi kawasan ESEAP, yang mencakup beberapa populasi internet terbesar di dunia, keragaman bahasa yang luar biasa, serta komunitas dengan akses infrastruktur digital yang sangat beragam, “tetap relevan” bukanlah satu masalah, melainkan banyak masalah sekaligus.

Sepanjang hari itu, saya terus teringat pada diskusi tentang data budaya terbuka yang sudah lama saya jalani di Indonesia. Saya telah lama bekerja dengan Wikimedia Indonesia serta berbagai mitra penting, termasuk beberapa lembaga pemerintah Indonesia, Creative Commons Indonesia, dan Goethe-Institut. Kami sering membahas koleksi budaya terbuka, tetapi tantangan yang muncul, seperti kesenjangan kesadaran, kebingungan seputar hak cipta, dan sikap protektif institusi, ternyata sama persis dengan dinamika yang dibahas di tingkat global. Apa yang terjadi di tingkat lokal, pada akhirnya juga bersifat global. Salah satu tugas penting ESEAP Hub adalah memastikan cerita dan pengalaman dari wilayah kami didengar di forum-forum seperti ini.

Hari Ketiga: Berupaya Melangkah ke Depan

Hari ketiga membawa energi yang berbeda. Setelah dua hari mendengarkan dan berdiskusi, kami diminta untuk mengusulkan sebuah eksperimen. Eksperimen tersebut bisa berupa ide sederhana maupun besar, yang dapat diuji maupun yang sulit diuji, yang “aman untuk dicoba” maupun yang benar-benar eksperimental. Intinya, berbagai macam gagasan diperbolehkan, baik yang memungkinkan untuk segera dilaksanakan dalam waktu dekat, atau pada masa mendatang, maupun yang saat ini masih terasa belum realistis, tetapi tetap memiliki potensi untuk diwujudkan. Gagasan-gagasan tersebut nantinya bisa dibawa kembali ke komunitas dan proyek masing-masing.

Formatnya cukup kreatif. Kami menuliskan ide-ide di kertas yang ditempelkan pada dinding kaca (Jeromi mengingatnya sebagai “kaca yang sangat besar”). Kemudian, kami menggabungkan dan menyempurnakan ide-ide tersebut bersama peserta lain, lalu membentuk tim kecil berdasarkan eksperimen yang saling terkait. Menurut hitungan Jeromi, para peserta mengusulkan setidaknya 50 eksperimen yang berbeda, dan 23 di antaranya telah dipublikasikan di Meta. Eksperimen-eksperimen itu mencakup beragam tantangan. Jeromi sendiri bergabung dengan Daniel Sigge dan Ruby D-Brown untuk mengembangkan konsep sebuah perangkat yang dapat mendeteksi artikel-artikel populer, tetapi sudah ketinggalan zaman dan sangat perlu diperbarui. Ide praktis dan bermanfaat bagi komunitas ini lahir langsung dari percakapan selama dua hari sebelumnya.

Sementara itu, eksperimen yang saya usulkan berawal dari sebuah pertanyaan yang sudah lama ada di benak saya, jauh sebelum acara di Frankfurt: apa yang terjadi pada pengetahuan yang tidak pernah dituliskan?


WikiVoice — Pengalaman Saya dari Futures Lab

Saya bersama Subha dan Tochi oleh Jason Ekvidi, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Apa itu WikiVoice? WikiVoice adalah usulan arsip bahasa digital yang dirancang khusus untuk menyimpan pengetahuan lisan, yakni pengetahuan yang hidup dalam cerita yang disampaikan secara lisan, rekaman komunitas, serta bahasa-bahasa masyarakat adat yang jumlah penuturnya jauh lebih banyak daripada orang yang menuliskannya.

Inti dari gagasan ini adalah sebagai berikut: Bersama dengan Wikimediawan dari Nigeria (Tochi Precious) dan India (Subhashish Panigrahi), saya turut menciptakan sebuah gagasan percontohan  berupa WikiVoice selama sesi Lab. Eksperimen ini mengusulkan infrastruktur berbasis Wikimedia yang memungkinkan para arsiparis dan anggota komunitas untuk mengunggah media audio dan video, mengubahnya menjadi teks dengan bantuan teknologi ucapan ke tulisan atau pengenalan ucapan(speech-to-text), menambahkan terjemahan dan takarir, serta menghasilkan referensi yang dapat dikutip dengan kode waktu. Referensi tersebut nantinya dapat digunakan di berbagai proyek Wikimedia, seperti Wikipedia, Wikidata, Wikimedia Commons, dan proyek-proyek lainnya.

Mengapa hal ini penting? Sebagian besar pengetahuan di dunia tidak tersimpan dalam bentuk tulisan. Tradisi lisan, bahasa masyarakat adat, dan sejarah komunitas biasanya diwariskan melalui tuturan lisan, para tetua, serta praktik sehari-hari. Sementara itu, sistem rujukan di Wikipedia saat ini hampir seluruhnya bergantung sumber tertulis. Akibatnya, banyak sekali pengetahuan yang secara struktural tidak dapat tercatat ke dalam sumber referensi yang paling banyak dibaca sepanjang sejarah umat manusia.

WikiVoice hadir sebagai upaya untuk mengubah situasi tersebut. Kami berharap eksperimen ini dapat dikembangkan berdasarkan prinsip FAIR atau Kemudahan Pencarian, Keteraksesan, Interoperabilitas, dan Penggunaan Ulang (Findability, Accessibility, Interoperability, Reusability) serta prinsip CARE atau Manfaat Bersama, Wewenang Otoritas, Tanggung Jawab dan Etika (Collective Benefit, Authority to Control, Responsibility, Ethics). Kedua prinsip ini sangat penting, terutama ketika menangani pengetahuan masyarakat adat dan komunitas yang selama ini sering diekstraksi dan disajikan secara keliru.

Apa langkah selanjutnya? WikiVoice kini telah terdaftar sebagai salah satu eksperimen di Wikimedia Futures Lab. Tahap berikutnya adalah merancang bersama peta jalan eksperimen untuk mewujudkan gagasan ini, serta menentukan langkah-langkah untuk mengembangkannya menjadi proyek nyata.

Anda dapat mencari tahu tentang eksperimen tersebut di sini: WikiVoice – Wikimedia Futures Lab Experiment Tracker


Bagi saya, WikiVoice adalah momen ketika diskusi di Futures Lab berubah menjadi sesuatu yang sangat pribadi. Semua topik yang kami bahas selama dua hari pertama, komunitas-komunitas yang tersingkir dari proses produksi pengetahuan digital, kurang terwakilinya wilayah ESEAP, serta kesenjangan antara apa yang tercakup di Wikipedia dan pengetahuan sesungguhnya yang dimiliki dunia, semua tantangan abstrak itu menjadi sangat nyata ketika kami memikirkan masyarakat adat di wilayah kami. Mereka menyimpan pengetahuan yang tak tergantikan tentang tanah mereka, bahasa mereka, dan sejarah komunitasnya. Sayangnya, suara mereka  hampir tidak akan pernah muncul sebagai rujukan dalam Wikipedia dengan sistem yang berlaku saat ini.

Itulah sebabnya kehadiran ESEAP Hub dalam acara seperti ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar duduk di meja diskusi. Kehadiran itu penting karena ide-ide yang lahir dari ruang-ruang tersebut harus dibentuk oleh orang-orang yang mendapatkan manfaatnya.

Acara ini juga terasa istimewa karena kehadiran para pemimpin di tingkat tertinggi. Bernadette Meehan, Direktur Eksekutif baru Yayasan Wikimedia, hadir di sana. Ia tidak hanya tampil sebagai pembicara utama, melainkan ikut serta sepanjang acara sebagai pendengar dan pembahas yang aktif. Dalam percakapan singkat kami, ketika saya bertanya tentang peran barunya, ia menyampaikan betapa hidup dan bersemangatnya komunitas Wikimedia, serta betapa ramah dan terbukanya gerakan kami. Itulah budaya yang sedang kami jaga dan kuatkan, dan melalui eksperimen seperti WikiVoice, kami berusaha memperluasnya kepada komunitas-komunitas yang selama ini belum pernah mendapat kesempatan untuk berkontribusi.

Pelajaran yang Saya Bawa Pulang

Wikimedia Futures Lab bukan sekadar acara tiga hari yang selesai begitu saja. Acara ini dirancang sebagai bagian dari proses berkelanjutan. Yayasan Wikimedia dan Wikimedia Deutschland telah menegaskan bahwa diskusi-diskusi tersebut akan berlanjut sepanjang tahun 2026, dan hasilnya akan menjadi masukan bagi perencanaan tahunan serta strategi gerakan Wikimedia secara lebih luas.

Bagi ESEAP Hub, menurut saya, pelajaran terbesar yang bisa diambil adalah soal visibilitas dan suara. Kehadiran lima orang dari wilayah kita memang bukan hal yang kecil, tetapi juga belum cukup untuk mewakili sepenuhnya keberagaman yang dimiliki ESEAP: proyek-proyek Wikimedia multibahasa di Asia Tenggara, Pasifik, dan Asia Timur; komunitas GLAM yang berupaya mengubah koleksi warisan budaya menjadi bentuk digital di negara-negara dengan kesenjangan akses yang besar; komunitas bahasa yang berjuang membawa aksara dan bahasa yang kurang terwakili ke dalam ruang digital; serta jaringan sukarelawan yang melakukan kerja luar biasa dengan sumber daya yang terbatas.

Jeromi menyimpulkan dengan baik ketika ia menggambarkan pengalamannya berada di ruangan yang sama dengan orang-orang yang “bisa mengguncang banyak dunia jika memiliki kemauan dan implementasi yang tepat.” Itulah yang benar-benar yang saya rasakan. Wikimedia Futures Lab berhasil menghimpun orang-orang dengan pengalaman dan komitmen yang luar biasa. Pertanyaannya, pertanyaan yang sama yang selalu kita ajukan di setiap hackathon, maraton suntingan, maupun diskusi data terbuka, adalah bagaimana kita mengubah energi tersebut menjadi sesuatu yang berkelanjutan.

Salah satu peserta, Nicole Ebber dari Wikimedia Deutschland, sedang menandai beberapa eksperimen di dinding besar yang dipenuhi catatan tempel.
Jason Ekvidi, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Sekarang, catatan-catatan tempel itu sudah dilepas dari dinding kaca. Eksperimen secara resmi telah dimulai. Semoga semuanya berjalan dengan baik di masa depan!!


Laporan dari peserta ESEAP lainnya:

Can you help us translate this article?

In order for this article to reach as many people as possible we would like your help. Can you translate this article to get the message out?

Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments