Mengikuti WikiNusantara Untuk Pertama Kalinya

Translate this post
VyncensisioCC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Wiki Nusantara 2026 bisa dibilang salah satu acara “jambore” kontributor Wikipedia se-Indonesia. Saya yakin siapapun yang aktif berkontribusi di wikipedia harusnya termotivasi untuk bisa mengikuti kegiatan ini. Salah satu pengalaman yang ga akan bisa dilupakan itu adalah karena bisa ketemu langsung sama kontributor-kontributor yang selama ini cuman bisa berinteraksi secara daring.

Setidaknya untuk saya, Wiki Nusantara merupakan salah satu agenda dari kegiatan luring wikipedia yang sangat saya tunggu. Sebenarnya saya sudah pernah lolos Wiki Nusantara 2024, namun karena terkendala jadwal pekerjaan membuat saya harus mengundurkan diri. Barulah pada edisi sekarang saya bisa mengikuti kegiatan ini untuk pertama kalinya.

Mengikuti Wiki Nusantara tidak hanya menjadi ajang kumpul para kontributor. Saya paling suka belajar dari pengalaman orang lain, cerita-cerita mereka pasti akan selalu menarik untuk didengarkan. Kegiatan ini saya manfaatkan untuk saling bertukar cerita, pengalaman dan pemikiran satu sama lain. Terutama dalam hal mengelola komunitas lokalnya masing-masing, yang mungkin saja bisa diterapkan pada komunitas tempat saya bernaung.

Hari pertama pada Sesi WikiNusantara Talk ada materi yang menarik perhatian saya. Mengenai Bahasa yang selama ini kita gunakan sehari-hari. Bahasa tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi saja. Tetapi juga digunakan sebagai alat dokumentasi. Mendokumentasikan bahasa adalah mendokumentasikan pengetahuan. Sungguh sebuah kalimat yang menggugah. Terlebih ketika saya tau bahasa daerah saya masih banyak yang belum didokumentasikan secara tertulis.

Bahasa Tidak Hanya Alat Komunikasi

Berdasarkan data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Indonesia tercatat memiliki 718 bahasa daerah. Berarti, setidaknya ada 718 pengetahuan yang menunggu untuk dibebaskan. Sungguh sebuah kekayaan yang tak ternilai, belum tentu dimiliki bangsa lain.

Bagi masyarakat adat, bahasa bukan sekadar alat komunikasi saja, namun bahasa juga menjadi:

  1. Cara masyarakat adat memahami wilayah adatnya;
  2. Cara masyarakat adat hidup dan menghidupi wilayah adatnya;
  3. Cara masyarakat adat menjaga hubungan dengan leluhurnya
  4. Cara masyarakat menjaga wilayah adatnya.

Sebuah paparan materi yang semakin membuka cakrawala berpikir saya tentang bahasa. Bahwa bahasa merupakan unsur penting dalam mendokumentasikan pengetahuan, budaya, dan juga sejarah dari sebuah bangsa. Bahasa yang hampir punah, sejatinya memang perlu dilestarikan agar semua hal di belakanganya tidak ikut punah seiring waktu.

Ketika berkontribusi di Wikipedia, entah itu bahasa Indonesia dan bahasa daerah, saya selalu membayangkan artikel yang saya tulis akan dibaca oleh generasi 5-10 tahun ke depan. Jadi sebisa mungkin artikel yang saya buat memuat informasi yang padat dan bermanfaat bagi pembacanya. Bahkan, termasuk ketika berkontribusi di wikicommons, saya selalu mencantumkan tahun ketika foto itu diambil.

Kenal Lebih Dalam Dengan Lokasi Acara

Photowalk menjadi salah satu agenda favorit saya. Karena membuat peserta jadi lebih mengenali kota yang dikunjungi jadi lebih intim. Melihat sejarah kota dari sebuah diorama, prasasti dan barang peninggalan sejarah membuat kita jadi lebih menghargai perjuangan pendahulu. Kita jadi lebih berempati terhadap apa yang terjadi di kota itu dan masyarakat yang melalui zaman itu.

Lokasi photowalk-nya juga terbilang cukup bersejarah dan otentik. Akan lebih menarik lagi jika lokasinya lebih banyak dan pesertanya lebih teratur. Photowalk malam juga ide menarik sebenarnya, memungkinkan adanya sensasi yang berbeda ketika dilakukan. Namun perlu juga diperhatikan faktor keamanan peserta dan juga lokasi yang akan dikunjungi.

Mungkin bisa dicoba juga agenda khusus menyicipi kuliner khas kota yang otentik. Bukan cuma mencoba kuliner di warung/restoran yang viral. Namun mencoba kuliner dari warung-warung hidden gem yang belum banyak dicoba oleh orang lain. Saya rasa warga lokal lebih tau mana warung yang enak namun tidak viral. Justru hal seperti ini yang lebih otentik dan melokal sekali.

Sesi sharing diskusi meja juga menarik buat saya. Meskipun sudah pernah mengikuti sesi seperti ini di WikiCendekia, di Wiki Nusantara tema-tema yang diusung menarik semuanya. Sayangnya saya tidak bisa mengikuti banyak tema diskusi, padahal saya yakin ada banyak peserta yang tertarik dengan lebih dari 2 tema diskusi.

Bahan Belajar Menjadi Penyelenggara Acara

Saya pribadi juga belajar untuk melihat acara ini dari sisi penyelenggara acaranya. Tidak hanya sebagai peserta tapi juga mencoba untuk merasakan jadi panitianya. Agar ke depannya ketika mengadakan acara yang mirip-mirip, bisa belajar dari pengalaman dan bisa memitigasi hal-hal yang mungkin akan terjadi.

Dari Wiki Nusantara saya juga belajar bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Apapun yang dilakukan pasti akan ada kekurangannya. Tugas kita bukan fokus mencari kekurangannya, tapi terus belajar agar ke depannya semakin sedikit kesalahan yang terjadi.

Bagi saya, semua yang didapatkan di WikiNusantara adalah pengalaman pertama. Sepertinya akan tetap seperti itu ketika mengikuti kegiatan Wikimedia lainnya. Saya ingin menjaga agar setiap momen memiliki kesan tersendiri. Sehingga, apapun acaranya, siapapun yang berada di dalamnya, semuanya menjadi momen tak terlupakan.

Can you help us translate this article?

In order for this article to reach as many people as possible we would like your help. Can you translate this article to get the message out?