Muram Wikimania dan Wikipedia 2026 dalam Teror Akal Imitasi

Translate this post

Saya membuka hari pertama konferensi dengan menyaksikan bagaimana Alek Tarkowski, salah seorang anggota di Dewan Wikimedia Eropa, bak penceramah hari kiamat, mengajak seisi ruangan untuk membayangkan dunia ketika mesin pencari dan situs web yang biasa kita kunjungi secara langsung menjadi semakin tidak relevan. Dunia ketika sebagian besar kebutuhan informasi manusia dipenuhi melalui aplikasi tertutup yang meringkas informasi melalui mesin-mesin AI generatif dan agentis.

Kekhawatiran ini bukannya tanpa alasan. Dalam sesi-sesi konferensi berikutnya, kekhawatiran ini berkali-kali diamini oleh data hasil penelitian. Wikimedia Foundation, misalnya, menemukan bahwa jumlah kunjungan manusia ke Wikipedia menurun sekitar delapan persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sebuah penelitian lain terhadap lebih dari 161 ribu artikel memperkirakan bahwa kemunculan ringkasan AI di Google menurunkan kunjungan harian ke artikel Wikipedia berbahasa Inggris sekitar 15%.1 Penelitian mengenai dampak ChatGPT juga menemukan penurunan penyuntingan dan kunjungan yang lebih besar pada artikel-artikel yang isinya dapat digantikan oleh jawaban ChatGPT.2

Pada saat yang sama, kunjungan robot-robot pengepul data makin bertambah. Robot-robot ini datang tanpa niatan untuk membaca atau memperbaiki kesalahan yang ada. Mereka hanya datang untuk mengambil data dalam jumlah besar dan dengan frekuensi tinggi guna menghidupi mesin pencari dan model bahasa. Robot-robot ini membebani peladen atau server tanpa meninggalkan sukarelawan baru ataupun memberikan timbal balik yang dapat menjaga keberlangsungan proyek-proyek Wikimedia.

The giant Wikipedia jigsaw puzzle at Wikimania 2026 in Paris, France

Rumah kita semakin sepi oleh manusia, tetapi halaman belakangnya semakin ramai oleh mesin-mesin pengangkut data tanpa wajah.

Seperti yang saya pahami langsung dari Jimmy Wales yang tak lama kemudian memberi sambutan di panggung utama Wikimania 2026, ketika pertama kali menciptakan Wikipedia, saya membayangkan Pak Jimmy sedang membangun sebuah rumah. Rumah yang berisi pengetahuan. Siapa pun bisa masuk secara gratis: sekadar melihat-lihat; mencari tahu, ataupun ikut berkontribusi menambah pengetahuan yang ada.

Dua puluh lima tahun berselang, rumah tersebut mungkin sudah jauh lebih besar dari apa yang Pak Jimmy bayangkan pada waktu itu. Rumah tersebut tidak lagi hanya berisi pengetahuan ensiklopedik. Di dalamnya kini juga tumbuh berbagai macam komunitas yang ikut merawat ilmu pengetahuan di seluruh dunia dengan berbagai bentuk: Wikisource yang merawat naskah dan dokumen lama; Wikidata yang menghubungkan pengetahuan dalam bentuk data yang terstruktur dan terkoneksi; Wikimedia Commons yang menyimpan gambar, suara, dan video; Wikitionary yang mendokumentasikan kata-kata; serta berbagai proyek lain, termasuk ruang inkubasi bagi komunitas bahasa yang sedang berusaha membangun proyeknya sendiri. Rumah yang terus membesar karena jutaan orang datang membawa sesuatu, sekecil apa pun, misalnya ada yang menuliskan sejarah desanya, artis idolanya, mendokumentasikan bahasa yang terancam punah, mengumpulkan resep masakan tradisional, dan berbagai macam pengetahuan lain yang mereka tinggalkan untuk digunakan atau sekadar diketahui oleh orang yang mungkin tidak pernah mereka kenal dan akan mengenali mereka balik.

Ketika membangun rumah ini, Pak Jimmy maupun para sukarelawan yang kemudian berkontribusi mungkin tidak terlalu memikirkan bagaimana khalayak internet dapat menemukan rumah kita; jalan yang harus mereka tempuh untuk sampai ke pintunya. Selama bertahun-tahun, rumah tersebut sangat bergantung pada jalan besar yang kita sebut mesin pencari. Ketika seseorang mengetikkan nama tokoh, tempat, penyakit, atau konsep tertentu di kolom mesin pencari, Wikipedia hampir selalu menjadi salah satu bangunan pertama yang mereka lihat. Kita sebagai sukarelawan sering membanggakan hal ini. Saya pun ketika melakukan pelatihan menulis sering dengan bangga menunjukkan bagaimana mesin-mesin ini mengantarkan mereka ke halaman depan rumah kita. Dari sana, sebagian orang hanya membaca lalu pergi, sebagian tersesat ke artikel lain, dan sebagian kecil mulai menyadari bahwa mereka pun dapat memperbaiki atau menambahkan sesuatu.

Yang menjadi masalah, jalan tersebut tidak pernah menjadi milik kita. Kita hanya diberi izin oleh perusahaan-perusahaan teknologi untuk mengikuti kontes yang menentukan bangunan mana yang akan mereka tampilkan, serta seberapa jauh para pelancong dunia maya diizinkan untuk melanjutkan perjalanan. Namun, perusahaan-perusahaan tersebut kini mulai membangun kios jawaban di pinggir jalan, sangat dekat dengan rumah kita; wilayah dunia maya yang mungkin secara legal masih abu-abu milik siapa dan dapat digunakan dengan cara apa, tetapi membawa dampak nyata bagi kelangsungan hidup proyek-proyek Wikimedia. Penjaga-penjaga kios ini keluar-masuk melalui halaman belakang, mengambil, meringkas, dan menyajikan jawaban kepada pengguna sebelum sempat mencapai rumah kita. Pengguna cukup bertanya kepada penjaga kios, menerima satu paragraf jawaban, lalu melanjutkan hidupnya. Mereka mungkin masih tetap mengonsumsi pengetahuan yang ditulis oleh sukarelawan Wikipedia, tetapi makin mengecilkan peluang untuk mengetahui dari mana pengetahuan tersebut berasal. Mereka tak sampai melihat riwayat penyuntingan, sumber rujukan yang digunakan, apalagi menjelajahi tombol untuk menyunting. Pengguna internet tidak memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia biasa yang tentu saja bisa salah dan berubah di kemudian hari, serta membutuhkan manusia lain untuk mengoreksinya.

Selama ini nampaknya kita begitu sibuk membangun dan memperbesar rumah tersebut tanpa sungguh-sungguh memikirkan bagaimana orang-orang dapat menemukan serta masuk ke dalamnya. Kita terus menghitung jumlah artikel, gambar, serta butiran data. Kita memperbarui kebijakan, menyelenggarakan pelatihan, dan mungkin berdebat selama berminggu-minggu mengenai satu kalimat. Tentu saja semua ini penting, tetapi menyerahkan urusan jalan masuk tersebut kepada pihak lain membuat kita tanpa sadar telah membangun menara gading digital. Isi menara tersebut masih dapat ditemukan di mana-mana, seperti jawaban di mesin pencari, robot diskusi, dan unggahan media sosial. Akan tetapi, menaranya sendiri perlahan-lahan menghilang dari pandangan.

Saya meyakini banyak sukarelawan atau Wikimedia Foundation sendiri sudah sejak lama menyadari ketergantungan ini. Namun, selama dampaknya belum terasa signifikan, kita tidak benar-benar terdorong untuk memikirkan dan melakukan langkah-langkah konkret. Selama angka kunjungan masih mencapai miliaran dan nama Wikipedia masih dikenal hampir semua orang di sekitar kita, tidak ada sesuatu yang kiranya begitu darurat untuk diperbaiki. Persoalan ini mulai saya sadari saat memberikan pelatihan menulis Wikipedia di Indonesia bagian timur (Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara) sekitar tahun 2019. Biasanya, ketika membuka pelatihan, saya akan bertanya, “Pasti di sini semuanya sudah tahu, dong, Wikipedia itu apa?” Biasanya pula ruangan akan mengiyakan serempak jika saya melakukan pelatihan di kota-kota di Pulau Jawa. Nama Wikipedia terasa sangat umum bagi orang yang menggunakan internet, sehingga pertanyaan tersebut terdengar seperti basa-basi. Namun, pelatihan di wilayah Indonesia timur ini tidak selalu menghasilkan keyakinan yang serupa. Banyak peserta pelatihan, misalnya, lebih familiar dengan Tokopedia ketimbang Wikipedia.

Sebagai seseorang yang tumbuh di daerah pedalaman Sulawesi, saya melihat fenomena ini timbul akibat dari perbedaan cara masyarakat lintas generasi mengakses internet dalam keseharian mereka. Di perkotaan, tidak hanya di Pulau Jawa, masyarakat yang mengakses internet lebih awal biasanya menggunakan komputer meja atau laptop untuk berselancar di dunia maya. Antarmuka bawaan (default) yang mereka kenali adalah antarmuka peramban (browser) yang kemudian secara alami membawa mereka menggunakan mesin pencari untuk menjelajahi informasi. Sementara itu, bagi mereka yang relatif baru mengakses internet, mereka umumnya menggunakan telepon pintar untuk berselancar. Di sini, antarmuka bawaan internet yang mereka kenali adalah aplikasi, terutama aplikasi media sosial. Ini juga yang kita temui jika melihat perilaku generasi yang lebih muda dalam berinternet; mereka cenderung menggunakan aplikasi media sosial seperti TikTok dan Instagram sebagai mesin pencari alih-alih Google, yang merupakan sumber kunjungan terbanyak Wikipedia.

Untungnya, Wikipedia tidak menghadapi permasalahan ini sendirian. Media dan penerbit independen, perpustakaan digital, proyek perangkat lunak bebas, serta berbagai pengelola sumber daya bersama di internet menghadapi pola yang serupa. Pengetahuan dan karya mereka digunakan untuk membangun produk AI, sementara hubungan antara pengguna dan sumber aslinya semakin terputus. Saya cukup senang melihat di Wikimania kali ini terdapat cukup banyak perwakilan dari entitas-entitas tersebut yang membagikan keresahannya satu sama lain, menggaungkan advokasi, menuntut mekanisme atribusi yang lebih adil, akses data berskala besar yang bertanggung jawab, serta hubungan timbal balik dari perusahaan yang memperoleh keuntungan komersial dari pengetahuan bersama.

Banyak dari permasalahan-permasalahan ini kelihatannya membutuhkan solusi nonteknis seperti advokasi, pembentukan koalisi, serta negosiasi dengan perusahaan atau pemerintah. Bagi orang yang cukup teknis seperti saya, semua itu memang penting, tetapi sejujurnya sangat membosankan. Saya lebih bersemangat melihat purwarupa produk, API, repositori kode, atau langsung mencoba perkakas digital ketimbang harus mengikuti rapat advokasi berjam-jam membahas rumusan satu paragraf kebijakan.

Bagi teman-teman yang memiliki perasaan serupa, jangan khawatir. AI agentis justru membuka medan baru bagi kita untuk melakukan perawatan dan eksperimen di menara gading tercinta ini. Bagi saya, alih-alih menggantikan manusia, bagian paling menarik dari teknologi ini adalah potensinya untuk melipatgandakan human agency. Bagian yang memungkinkan satu orang dengan rasa ingin tahu, sedikit kemampuan teknis, dan sebuah gagasan untuk mengerjakan sesuatu yang sebelumnya membutuhkan waktu, tenaga, serta keahlian yang jauh lebih besar.

Dan Wikipedia mungkin merupakan salah satu tempat terbaik untuk menemukan kelimpahan human agency semacam itu. Saya melihat ada banyak orang di sini yang rela menghabiskan waktu berjam-jam memperbaiki satu kategori, menambahkan koordinat sebuah desa, memeriksa sumber sebuah artikel, menulis modul, membuat perkakas, atau mengunggah foto kantor balai desa; bukan karena ada yang menyuruh atau membayar mereka, melainkan semata-mata karena mereka penasaran, peduli, atau sekadar merasa hal itu menarik. Just for the love of the game.

Bayangkan jika orang-orang semacam ini kini memiliki sekumpulan agen yang dapat membantu mengerjakan bagian-bagian pekerjaan yang sebelumnya terlalu repetitif, lumayan teknis, atau mungkin cukup besar untuk dilakukan seorang diri. Agen-agen ini tentu saja tidak bertujuan menggantikan sukarelawan, melainkan memperpanjang tangan mereka. Sebagai penyunting, kita tetap menentukan apa yang ingin dicapai, prinsip apa yang harus kita jaga, serta mengatur bagaimana sebuah hasil dirasa sudah cukup baik. Mesin hanya memperbesar sejauh mana satu manusia dapat membawa rasa ingin tahunya.

Saya menyadari masih ada jarak yang cukup lebar antara sukarelawan yang terbiasa bekerja melalui antarmuka kode komputer dan mereka yang tidak. Banyak kemungkinan menarik dari AI agentis saat ini masih terasa lebih mudah dijangkau oleh orang-orang yang sudah terbiasa dengan terminal, repositori kode, API, atau berbagai perkakas teknis lainnya. Padahal, jika teknologi ini benar-benar ingin memperluas human agency, manfaatnya seharusnya tidak berhenti pada kelompok yang memang sejak awal sudah cukup teknis.

Karena itu, saya berniat menyelenggarakan lokakarya mengenai penggunaan AI agentis untuk proyek-proyek Wikimedia di Indonesia, terinspirasi dari lokakarya yang saya ikuti di Wikimania Paris. Bedanya, saya ingin memberi perhatian lebih besar kepada teman-teman sukarelawan yang belum terbiasa menggunakan antarmuka berbasis kode seperti bagaimana memecah sebuah pekerjaan menjadi tugas-tugas yang dapat dibantu oleh agen, bagaimana memberikan instruksi yang baik, bagaimana memeriksa hasilnya, serta bagaimana tetap menjaga kendali manusia atas proses tersebut. Saya masih menyusun kurikulumnya. Jika ada teman-teman yang tertarik untuk ikut belajar, bereksperimen, atau bahkan membantu menyusunnya bersama, silakan menghubungi saya melalui halaman pembicaraan akun Wikimedia atau Wikipedia saya.

Di tengah segala ketakutan dan keraguan terhadap AI dan dampaknya, saya cukup optimis bahwa AI akan mempercepat perjalanan manusia dalam memahami dunia dan seisi alam semesta. Otak kita butuh alat bantu untuk memahami alam semesta yang ukurannya triliunan-triliunan-triliunan-triliunan kali lipat lebih besar dibandingkan dengan volume otak kita. Bahasa, tulisan, mesin cetak, komputer, dan internet adalah contoh alat bantu yang kita ciptakan di masa lalu dan masih kita gunakan hingga hari ini. Berkat alat-alat bantu itulah pengetahuan di proyek-proyek Wikimedia ini muncul dan berkembang. Saya percaya AI bisa menjadi bagian berharga dari rumah kita alih-alih sekadar ancaman.

  1. Khosravi, M., & Yoganarasimhan, H. (2026). Impact of AI search summaries on website traffic: evidence from Google AI Overviews and Wikipedia. Available at SSRN 6164926.
    ↩︎
  2. Lyu, L., Siderius, J., Li, H., Acemoglu, D., Huttenlocher, D., & Ozdaglar, A. (2025, May). Wikipedia contributions in the wake of chatgpt. In Companion Proceedings of the ACM on Web Conference 2025 (pp. 1176-1179). ↩︎

Can you help us translate this article?

In order for this article to reach as many people as possible we would like your help. Can you translate this article to get the message out?