Merekam Sejarah di 4 Kesultanan Moloku Kie Raha – Perjalanan WikiRempah Bagian Ternate

Translate this post

Jalur rempah Nusantara bukan sekadar catatan lama di buku sejarah; jalur rempah merupakan warisan budaya yang jejaknya masih bisa kita susuri hingga hari ini. Berangkat dari kesadaran akan pentingnya mendokumentasikan situs-situs bersejarah tersebut, lahirlah Proyek WikiRempah dengan fokus utama mendokumentasikan situs budaya Jalur Rempah, khususnya di wilayah Indonesia Timur yang kaya akan sejarah namun masih minim dokumentasi.

Kali ini, tim WikiRempah melakukan perjalanan bersejarah menyusuri wilayah Maluku Utara, tepatnya di empat kesultanan besar yang dikenal dengan sebutan Moloku Kie Raha. Rute perjalanan kami dimulai dari Ternate, berlanjut ke Tidore, kemudian ke Jailolo, dan berakhir di Bacan.

Tantangan yang Menjadi Penyemangat

Menyusuri wilayah-wilayah di Indonesia Timur tentu memiliki tantangan tersendiri. Sepanjang ekspedisi ini, tim WikiRempah dihadapkan pada berbagai situasi yang menguji fisik dan mental. Mulai dari medan lapangan yang sulit diprediksi, keterbatasan akses transportasi dan infrastruktur, hingga masalah kesehatan saat perjalanan. Namun, hal-hal tersebut tidak sedikit pun menyurutkan langkah kami. Sebaliknya, tantangan ini justru menjadi bahan bakar yang membuat tim WikiRempah semakin bersemangat. Kami sadar betul bahwa situs-situs budaya yang tidak banyak dokumentasinya ini harus segera direkam. Lebih dari itu, inisiatif ini membawa misi penting: menyebarkan semangat pengetahuan terbuka Wikipedia hingga ke daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di Indonesia Timur.

Ternate: Titik Mula dan Napak Tilas Sejarah 

Perjalanan pertama kami dimulai di Ternate. Akses di Ternate masih sangat mudah dijangkau dan fasilitasnya sudah menyerupai kota-kota besar lainnya. Petualangan kami di sini dimulai dengan menyusuri kemegahan peninggalan kolonial di Benteng Oranje (Fort Oranje). Setelah itu, kami mengunjungi Makam Belanda Kota Ternate. Situs ini memberikan kesan mendalam bagi kami, sekaligus memunculkan satu catatan penting: tempat bersejarah ini sangat membutuhkan perhatian dan perawatan ekstra dari berbagai pihak agar kelestariannya tetap terjaga.

Napak tilas kemudian berlanjut ke saksi bisu kejayaan rempah masa lampau, yaitu pohon Cengkeh Afo—pohon cengkeh tertua di Maluku Utara. Kami berkesempatan menjangkau lokasi Cengkeh Afo 2 dan 3. Sayangnya, kondisi Cengkeh Afo 2 saat ini sudah mati dan tidak berbentuk lagi, sehingga saat ini kita hanya bisa melihat sisa-sisa dari pohon cengkeh bersejarah tersebut. Perjalanan hari itu lalu kami tutup dengan kunjungan ke pusat kebudayaan setempat, Kedaton Kesultanan Ternate.

Menyusuri Jejak Benteng dan Petualangan di Fuenza

Ternate di masa lampau adalah titik pusat pertahanan, sehingga tak heran jika pulau ini dikelilingi banyak benteng. Tim WikiRempah melakukan dokumentasi maraton ke beberapa benteng bersejarah, di antaranya Benteng Tolukko, Benteng Kalamata, Benteng Kastela (yang saat ini telah mengalami rehabilitasi), dan Benteng Kota Janji.

Namun, dari semua benteng yang kami kunjungi di Ternate, penelusuran ke Benteng Fuenza adalah yang paling berkesan dan menantang. Tidak seperti benteng-benteng lainnya yang berada di lokasi terbuka, Benteng Fuenza yang terletak di Kelurahan Kastela ini cukup tersembunyi. Beruntung, kami dibantu oleh masyarakat lokal yang sangat terbuka, ramah, dan bersedia menunjukkan jalan. Kami harus berjalan kaki melewati area perkebunan warga dan menyibak semak-semak lebat untuk mencapainya.

Tiba di lokasi, bentuk asli Benteng Fuenza memang sudah tidak terlihat utuh. Namun, bagian-bagian struktur batuannya masih menyisakan jejak kegagahan masa lalu. Di tengah reruntuhan tersebut, terdapat sebuah cekungan semacam “kolam” yang menurut warga setempat akan terisi penuh oleh air saat musim hujan tiba. Mendokumentasikan situs yang hampir terlupakan seperti ini adalah inti dari mengapa WikiRempah ada.

WikiLatih WikiRempah: Menanamkan Pengetahuan Terbuka

Bagi WikiRempah, dokumentasi digital tak akan hidup tanpa adanya komunitas lokal yang merawatnya. Oleh karena itu, misi kami tidak sekadar mengambil foto dan menulis artikel, tetapi juga memberdayakan masyarakat.

Di setiap daerah utama kunjungan kami—Ternate, Tidore, dan Bacan—tim WikiRempah mengadakan sesi WikiLatih. Di Ternate kami melaksanakan WikiLatih bersama civitas akademika Universitas Terbuka Ternate, di Tidore kami melaksanakan WikiLatih bersama komunitas literasi: Folila, dan di Bacan kami melaksanakan WikiLatih bersama mahasiswa Universitas Nurul Hasan Bacan. Melalui pelatihan ini, kami mengajak civitas akademika, dan komunitas literasi untuk ikut berkontribusi di Wikipedia, memperkenalkan mereka pada gerakan pengetahuan terbuka, dan memberikan mereka tempat untuk menceritakan sejarah tanah kelahiran mereka sendiri ke hadapan dunia.

Perjalanan di Moloku Kie Raha adalah bukti nyata bahwa sejarah dan budaya Jalur Rempah masih berdetak kencang di Indonesia Timur. Meski tantangan di lapangan tak mudah ditaklukkan, melihat antusiasme masyarakat lokal dan berhasilnya dokumentasi situs-situs tersembunyi membuat setiap tetes keringat kami terbayar lunas.

Nantikan kisah lanjutan perjalanan tim WikiRempah di Tidore, Jailolo, dan Bacan pada catatan berikutnya!

Can you help us translate this article?

In order for this article to reach as many people as possible we would like your help. Can you translate this article to get the message out?